Sabtu, 07 September 2019

Datsun Pickup 620 1500cc, Mobil Niaga Kuno yang Paling Tidak Kuno


Mobil tertua yang pernah saya urus ini produksi tahun 1979, tahun terakhir Datsun 620 diproduksi sekaligus tahun-tahun terakhir ada merk Datsun sebelum berubah jadi Nissan. Berdasarkan kuitansi yang hingga sekarang masih ada, unit yang keluarga saya pernah miliki dibeli pada Juli 1985 seharga 2,3 juta dari dealer "Chung Chung" di Jalan Sukamulya no 41 Bandung yang entah apakah masih ada sampai sekarang. Dijual lagi tahun 2012 seharga 15 juta (untung toh?). Warnanya coklat muda, di dokumen-dokumennya ditulis warna "Coklat Susu", (aneh, kalau susu coklat sih wajar, lah ini coklat susu apaan???? Susunya pun tidak jelas susunya siapa....)

Kebetulan keluarga kami memeliharanya dgn kondisi cukup original, kami hanya menambah stiker bonus dari oli BM-1 di kaca belakang & stiker sosialisasi Keluarga Berencana di kaca pintu kiri (entah itu stiker-stiker tahun berapa). Emblem DATSUN dengan strip warna merah & biru di grill masih ada, begitu juga emblem DATSUN1500 di fender. Juga dengan spion tanduk kecilnya, yg membuat saya kagum dengan orang2 jaman dulu yg bisa nyetir dengan spion sekecil & sejauh itu. Di samping kanan & kiri bak terdapat tulisan "KHUSUS ANGKUTAN BARANG BAK TERBUKA" warna merah, yang sudah tdk terlihat lagi di mobil-mobil pickup sejak akhir 90an.

Untuk seekor pickup, fiturnya cukup kumplit. Ada head unit single DIN merk Mitsubishi Electric yang bisa menerima kaset tape, dan radio FM, AM, dan SW (jika tidak tau tentang radio AM dan SW coba tanya bapakmu, kakekmu, atau kakek-kakek yang lain). Head unit ini masih hidup hingga sekitar tahun 2005. Juga ada AC merk Sanden Rotary, yang sepertinya sepertinya tambahan. Sayang saya tidak sempat merasakan ketika AC ini masih hidup. Menurut orang2 yg pernah merasakannya sih katanya sangat dingin. Wajar lah, kabin cuma segitu-gitunnya. Lubang kunci ada di kedua pintu, fitur mewah untuk mobil pickup karena sampai sekarang masih ada mobil pickup yang tidak memiliki lubang kunci di pintu kiri. Joknya kulit, sepertinya imitasi, warna biru tua. Doortrimnya juga kulit warna biru tua. Tidak seperti pickup jaman now yang lantainya langsung plat besi, si Datsun ini memiliki karpet dasar yang warna & bahannya sama dengan joknya. Plafonnya pun ditutup sejenis kanvas, warna beige. Suspensi depannya pake torsion beam dengan stabilizer (lagi-lagi mewah utk mobil pickup), belakang sih jelas per daun. Suspensinya seingat saya empuk, mirip Kijang Kapsul loh. Juga koplingnya dilengkapi master hidrolik, fitur yang cukup mewah pada zamannya, dan ironisnya Datsun produksi zaman now koplingnya kembali pake kabel....

Jika mobil-mobil 70an umumnya memiliki bodi tebal, yang ini tidak. Seingat saya bodinya masih lebih tipis dari Kijang Kapsul, apalagi Kijang Super. Mungkin setara dengan Grand Avanza. Kap mesinnya yang luas itu masih lebih ringan daripada milik Kijang Kapsul yg lebih pendek. Baknya sangat panjang & dalam jika dibanding dengan pickup jaman now. Bahan baknya cukup baik, walaupun berkarat tapi tdk keropos. Yang keropos malah lantai kabin & firewall. Keropos di firewall itulah, yang dipadukan dengan karet kaca depan yang bocor & karet pintu yg sudah hilang setengahnya menyebabkan istilah "jika naik mobil, ketika hujan tidak kehujanan" tidak berlaku di mobil ini, karena akan tetap membuat penumpangnya basah kuyup...

Soal mesin, yg menarik adalah warnanya. Jika anda buka ruang mesin Datsun 620 (yang orisinil), terlihat warna warni. Dindingnya coklat sesuai warna bodi. Blok mesin, tutup filter udara, dan filter oli, warna biru. Booster rem warna merah, radiator warna hitam & kipasnya warna putih. Mesinnya sendiri berkode J15, 1483cc, dengan tenaga maksimal 77 HP dan torsi maksimal 12 kgm. Transmisinya 4 speed, column shift. Di masa tuanya sih bisa nyampe 80 kmpj aja susah. Namun, menurut cerita orang2 yg pernah mengalami masa jaya Datsun 620, konon versi 1500cc ini  banyak yg speedometernya rusak akibat ngebut melebihi angka maksimal yg ada di speedometer. FYI, angka maksimal di speedometernya adalah 140 kmpj.

Sparepart mobil ini langka, sehingga di masa tuanya sparepart yang dipakai campur2. Sebagian pakai sparepart yang benar2 untuk Datsun 620 namun buatan lokal atau Taiwan, sebagian pakai milik Kijang Super, sebagian lagi pake milik Colt T120. Mungkin ini juga yang membuat masa tuanya agak menyedihkan, dan dalam beberapa hal, membahayakan. Rem tangannya hampir tidak berguna, bahkan saya pernah naik mobil itu sekitar 4 kilometer dengan kondisi supirnya lupa menonaktifkan rem tangan, dan tidak terjadi apa-apa, dan entah kenapa saat itu saya nggak mengingatkan supirnya. Ini menyebabkan di mobil sering bawa batu bata untuk ganjel ketika parkir. Kabel aki sudah copot dari besi konektor yg ada di ujungnya, sehingga tembaga dalam kabelnya lah yang kemudian dililit-lilit ke kepala akinya, untung nggak konslet & kebakaran ya... Selama masa hidupnya, pernah turun mesin 2 kali yaitu tahun 2001 dan tahun 2010. Yang kedua itu habis biaya total (cuma?) 3 juta, dengan sparepart asal-asalan. Namun setahun kemudian muncul masalah baru, kali ini pada karburator. Sehingga knalpotnya menyemburkan asap abu2 mirip diesel. Konsumsi bensinnya pun jadi boros, sekitar 1:6 luar kota! Konon ini juga yang menyebabkan mobil ini harus distarter berulang-ulang agar mesinnya bisa hidup. Sayangnya, di saat yang bersamaan akinya mulai soak sehingga hanya bisa menyimpan listrik untuk sekali starter. Untuk mengakalinya, sebelum menghidupkan mesin buka dulu tutup filter udara dan masukkan sedikit bensin kesitu. Mesin tersebut juga sering pincang, untuk menyembuhkannya cukup ganti busi-businya, namun cuma sembuh sekitar 6 bulan untuk kemudian kumat lagi. Harga busi Denso (sepertinya pake milik Kijang Super) saat itu cuma 10 ribu & anehnya harga busi hampir tidak berubah hingga sekarang, mungkin busi nggak kena inflasi ya...

Akhirnya, karena kondisi sudah menyedihkan, merepotkan & sudah tidak dibutuhkan lagi, mobil dijual pada Maret 2012 seharga 15 juta. Sedikit menyesal juga karena sekarang harganya sudah cukup naik, kondisi bahan pun ada yang jual dengan harga 20 jutaan. Saat ini mulai bermunculan Datsun 620 yang direstorasi dengan gaya orisinal maupun yang diganti mesinnya dengan yang lebih baru, suspensi dibuat ceper, kemudian dipake drag atau slalom. Intinya, tetap saja Datsun rombeng itu bikin kangen…

TAMAT

Mitsubishi Kuda, Gagah, Kencang, Irit, tapi…


Berawal dari salah seorang kerabat yang minjemin mobilnya ke saya, sekitar 1 tahun yang lalu, akhirnya saya bisa ngerasain gimana rasanya ngerawat spesies hewan mobil yang satu ini. Seekor Mitusbishi Kuda GLS Diesel produksi tahun 2000. Pertama kali saya coba, kaget. Rasanya aneh. Tenaga loyo, rem gak pakem, alarm rusak, indikator pada mati, beberapa lampu juga mati. Ditambah pula dengan lunturnya cat di bagian atap. Bener – bener kuleuheu kata orang Sunda.
Setelah beberapa perjuangan untuk membujuk si empunya mobil untuk membenahi mobilnya ini, akhirnya saya gak cuma dipinjemin, tapi juga dapet tugas buat bawa mobil itu bulak balik ke bengkel. Ya, akhirnya mobil itu direstorasi. Mulai dari tune up mesin, ganti timing belt, kuras minyak rem, ganti kopling 1 set, kerok radiator, perbaikan sistem kelistrikan, pasang alarm baru, bongkar kaki – kaki sampe cat ulang di beberapa bagian.
Setelah bulak – balik ke berbagai bengkel selama sekitar sebulan, dan menghabiskan dana yang lumayan bikin empunya mobil agak ngedumel, akhirnya si Kuda yang tak bisa makan rumput ini bisa dibawa jalan jauh tanpa rasa was – was. Oke, cukup ya dongengnya. Sekarang kita mulai review benerannya.
Diliat dari tampangnya, si Kuda generasi awal ini gagah banget kalau dilihat dari depan. Mirip Mitsubishi Pajero tahun 90an. Tapi Pajero beneran ya, bukan Pajero versi murah Sport. Dan jangan sampai bemper tanduk orisinilnya lepas, nanti jadi kelihatan culun. Bagian sampingnya gagah juga, dengan bentuk pintu & kaca yang lurus - lurus. Beda dengan Kijang Kapsul yang lebih berusaha tampil elegan. Namun, menurut saya ukuran pintu baris kedua di versi diesel ini terlalu besar, karena harus menyesuaikan dengan chassisnya yang lebih panjang. Nah, bagian belakang yang gak enak dilihat. Kuda generasi awal ini pintu bagasinya masih dibuka ke samping, mirip Kijang Super & Panther Kotak. Kelihatan kuno banget. Apalagi, selain varian Super Exceed, gak punya wiper kaca belakang. Jadi kelihatan polos. Di versi diesel, tambah wagu lagi karena atapnya yang lebih tinggi. Pokoknya gak enak diliat deh!
Soal build quality, si Kuda ini juara. Bodinya tebel. Emang tebel besinya ya, bukan tebel dempul kayak mobil karoserian. Coba bandingin sama Kijang atau Panther, Kuda masih lebih tebel. Di interior juga sama, dashboardnya keras dan kokoh, walaupun desainnya kalah mewah daripada Kijang Kapsul. Gak ada deh cerita dashboard Kuda bunyi rattle. Apalagi kisi – kisi AC yang rontok kayak di kebanyakan Panther, gak akan terjadi di Kuda ini.
Walaupun berbodi MPV, tapi si Kuda ini ternyata dibekali mesin & transmisi tipe pelari. Mesin dieselnya ini unik. Tidak seperti diesel pada umumnya yang tenaganya gede di RPM bawah tapi bengek di RPM atas, mesin diesel 4D56 yang sama dengan Colt L300 ini malah mengeluarkan tenaganya di RPM yang agak tinggi. Tarikannya masih kerasa hingga sekitar 3300 RPM. Malah untuk nanjak di Cipularang, RPM harus ditahan di atas 3000 supaya gak kedodoran. Tapi untuk urusan kecepatan, si Kuda ini paling kenceng kalo dibanding Panther atau Kijang Diesel. Cerita dari orang – orang, MPV ini sanggup lari hingga 160an kilometer per jam. Kalau saya sih Cuma pernah nyoba sampe sekitar 135 km/jam aja. Lebih dari itu gak berani. Di kecepatan segitu memang mobil udah mulai oleng. Tapi itu juga udah lumayan kalo kita bandingin dengan MPV lain yang sezaman, biasanya udah mulai gak stabil di 120an km/jam. Remnya juga bikin was – was kalo terlalu ngebut. Sesudah diservis pun remnya tetap agak keras dan kurang pakem. Mirip Panther lah. Beda sama Kijang yang empuk tapi pakem. Malah terlalu pakem menurut beberapa orang.
Bawa si Kuda jalan – jalan gak akan bikin kantong cekak karena urusan bahan bakar. Memang sih, secara itungan kilometer per liternya gak terlalu irit untuk ukuran diesel. Sekitar 1:8 untuk dalem kota dan sekitar 1:13 untuk kebut – kebutan di tol. Tapi tetap saja, dia biasa minum bahan bakar termurah di Indonesia Raya, apalagi kalau bukan biosolar! Dengan harga biosolar yang cuma 5 ribuan per liter, perjalanan Jakarta – Bandung dengan melewati macetnya proyek jalan tol yang gak beres – beres itu cuma butuh 70 ribuan untuk anggaran bahan bakar.
Kalo butuh mobil nyaman, jangan pilih Kuda deh. Bantingannya keras. Apalagi yang generasi awal, per daunnya masih 5 lembar. Setelah facelift, pernya dikurangi 1 lembar. Konon lebih empuk sedikit, tapi masih keras. Ketidaknyamanan ini diperparah dengan ukuran bannya yang agak nyeleneh, 185/80R14. Ukuran ban segini biasanya dipakai oleh mobil pick-up. Ada sih versi mobil penumpangnya, tapi anehnya hampir semua merk ban cuma bikin ban kelas eco-ecoan untuk ukuran segini. Gak ada yang bikin ban tipe comfort. Lengkaplah sudah ketidaknyamanan ini.
Yang perlu dipikirin dari Kuda diesel ini adalah sparepartnya. Loh, bukannya mesinnya sama dengan L300 ya? Iya sih, tapi mobil kan bukan cuma mesin doang. Sparepart mesin memang melimpah ruah, karena memang sama dengan L300. Nah, yang perlu dipikirin adalah sparepart selain bagian mesin. Agak susah nyari sparepart orisinilnya. Kalo yang merk lokal atau Taiwan sih masih ada. Misalnya, saya pernah nyariin spion kanan buat gantiin spion bawaan mobil yang patah kesenggol motor. Nyari ke toko - toko sparepart di Banceuy, pusatnya onderdil mobil di Bandung, gak ada yang jual. Akhirnya pesan ke bengkel resmi, akhirnya inden dengan perkiraan waktu 1 bulan. Ehh ditungguin sampe 3 bulanan gak datang. Akhirnya beli online. Itu pun KW Taiwan. Harganya? 800 ribu! Padahal spion hitam polos doang, manual pula. Bandingkan dengan spion manual milik Panther atau Kijang yang orisinilnya pun gak nyampe 200 ribu.
Suatu ketika, waktu saya bawa si Kuda ini tune - up di bengkel resmi Mitsubishi, saya liat ada satu ekor Kuda diesel yang lain. Parkir di pojokan area servis dengan bodi berdebu. Saya tanya salah satu montir, lagi sakit apa sih dia? Ternyata, water pump bocor karena terbentur kerikil. Udah 3 minggu nongkrong di bengkel resmi, nunggu water pump pengganti yang tak kunjung datang. Pantes debunya tebel…
Pernah juga saya bawa Kuda servis ke bengkel kaki – kaki, karena ketika mau spooring, eh kata petugasnya harus servis kaki – kaki dulu. Ternyata penyakitnya banyak juga. Mulai dari shock absorber, ball joint, tie rod, rack end, dan beberapa part lain yang saya gak ingat namanya. Sesuai arahan si pemilik mobil, saya pesan ke bengkel untuk pake onderdil yang orisinil. Bengkel gak punya stoknya. Berangkatlah satu orang montir untuk belanja onderdil – onderdilnya. Ditunggu berjam – jam, montir yang bersangkutan gak pulang – pulang. Ternyata setelah montirnya keliling ke berbagai toko onderdil, sparepart orisinil yang tersedia di pasaran cuma shock absorber, sisanya nihil. Terpaksa part lain pakai merk TRW bikinan Taiwan.
Entah berapa lama Kuda – Kuda yang tak merumput ini bisa bertahan. Toh sekarang pun sudah jarang kelihatan di kota – kota besar. Beda dengan Kijang dan Panther yang masih sering terlihat. Memang di masa jayanya pun, penjualannya tidak selaris kedua pesaingnya itu. Entah apakah keterbatasan onderdil orisinilnya juga berpengaruh mempercepat kepunahan spesies hewan yang satu ini. Yang jelas, jika 10 tahun lagi ada Kuda yang masih terawat dan orisinil, kemungkinan besar akan diincar oleh kolektor…

Minggu, 25 Agustus 2019

Filter Oli Kijang Dipakai Sembarangan Part 2


Masih membahas filter oli Kijang yang “disalahgunakan”, kali ini filter oli Kijang yang paling banyak beredar di masyarakat. Kodenya 90915-YZZZ1. Filter ini umum dipakai di semua generasi Kijang yang memakai mesin seri K, mulai Kijang Buaya KF10 bermesin 3K hingga Kijang Kapsul EFI KF82 dengan mesin 7K-E. Diproduksi oleh Denso Indonesia. Harganya murah, biasanya dijual dengan harga kurang dari 30 ribu rupiah. Di bengkel resmi pun harganya hanya 26 ribu rupiah. Mari kita lihat kemasan filter tersebut.



Kita lihat bagian belakang, apakah ada petunjuk yang menarik?


“Digunakan untuk model Kijang : 7KE, KF82, KF60, KF80”

Intinya, tulisan tersebut menyatakan bahwa 90915-YZZZ1 dirancang untuk Kijang Kapsul 1800 cc. Lalu bagaimana dengan Kijang – Kijang generasi sebelumnya? Apakah tidak cocok menggunakan filter ini?

Kita lihat saja buku pedoman pemiliknya masing – masing. Setidaknya, kita selidiki volume filter olinya. Berikut ini hasilnya;


Volume oli (tanpa ganti filter)
Volume oli (ganti filter)
Volume filter oli
Kijang 4K
3,0 liter
3,5 liter
0,5 liter
Kijang 5K
3,0 liter
3,5 liter
0,5 liter
Kijang 7K & 7K-E
3,4 liter
3,7 liter
0,3 liter

Nah, sekarang ketahuan, bahwa sebenarnya 90915-YZZZ1 agak terlalu kecil untuk Kijang 5K dan 4K. Lalu filter apa yang cocok? Sepertinya ini jawabannya



Filter 90915-YZZE1 ini ukuran fisiknya sedikit lebih tinggi daripada 90915-YZZZ1, sepertinya cocok untuk Kijang 4K & Kijang 5K yang memang butuh filter denga volume sedikit lebih besar. Apalagi, tercantum 4K dan 5K di kemasannya. Filter ini biasanya dipakai di Toyota Yaris. Harganya agak tinggi. 70-80 ribu rupiah. Maklum, impor dari Thailand.


Gambar-gambar pada artikel ini didapat dari google, yang pada akhirnya mengarahkan pada gambar-gambar dari berbagai online shop dalam dan luar negeri.

Minggu, 18 Agustus 2019

Filter Oli Kijang Dipakai Sembarangan?





Filter oli, sesuai namanya, fungsinya adalah menyaring kotoran-kotoran yang terdapat pada oli. Sehingga, oli yang beredar di mesin terbebas dari kotoran yang berpotensi membuat jalur oli di mesin menjadi mampet. Biasanya harga filter oli Toyota cukup murah, jarang diatas 100 ribu rupiah.

Namun, tetap saja memilih filter oli tidak boleh sembarangan. Masing – masing mesin punya filter olinya sendiri. Dudukannya pas tidak selalu berarti cocok, karena struktur dalam dan volumenya bisa jadi berbeda.

Kali ini kita bahas filter olinya innova.

Jika anda punya innova atau fortuner, baik yang diesel ataupun yang bensin, baik yang lama maupun yang baru (reborn), coba lihat filter oli yang sekarang terpasang. Atau, jika repot, jika mobil tersebut diservis di bengkel resmi, lihat saja struknya. Berapakah kode part filter oli tersebut?

Apakah 90915-YZZZ2?

Jika ya, memang cukup wajar. Hampir semua bengkel, termasuk bengkel resmi Toyota memasangkan filter oli 90915-YZZZ2 buatan Indonesia ini pada semua innova dan fortuner, tak peduli bensin atau diesel, lama atau baru, tua atau muda, beli cash, kredit, ataupun curian. Harganya cukup terjangkau, 30-40 ribu rupiah.

Nah, berikutnya, jika anda bisa melihat fisik filter tersebut, coba lihat apakah ada tulisan yang mencurigakan, seperti ini….

“Hanya Untuk Kijang”


Kijang manakah yang dimaksud?
Apakah innova & fortuner masih dianggap turunan Kijang?

Sebelum tambah bingung, kita lihat saja tulisan pada dus kemasan filter 90915-YZZZ2 tersebut.




Nah, sekarang menjadi jelas bahwa “Kijang” yang dimaksud adalah RZF71 dan RZF81. Itu adalah kodenya Kijang Kapsul 2000cc, dengan mesin 1RZ-E. RZF71 melambangkan varian chassis pendek, sedangkan RZF81 melambangkan varian chassis panjang. Sedangkan MCV30 adalah kode Toyota camry bermesin  1MZ-FE 3000cc.

Menurut tulisan pada kemasan, merekalah yang harusnya pakai 90915-YZZZ2


Jika 90915-YZZZ2 seharusnya untuk Kijang Kapsul (dan camry), lalu innova & fortuner harusnya pakai yang mana?

Salah satu pemilik all new fortuner diesel mengatakan, filter oli yang terpasang di mobilnya ketika mobil tersebut baru diantar dari dealer adalah 90915-TB001, made in Thailand. Filter oli tersebut diganti dengan 90915-YZZZ2 ketika servis pertama di bengkel resmi. Jika kita cari 90915-TB001 di pasaran, akan sangat sulit ditemukan. Apalagi di bengkel resmi, tak akan ada. Karena bengkel resmi hanya menyediakan 90915-YZZZ2. 90915-TB001 hanya tersedia di beberapa online shop, dengan harga yang gelap, 30-70 ribu rupiah. Itu pun entah mana yang asli mana yang palsu…



Untungnya, katalog suku cadang mayoritas mobil-mobil Toyota tersedia pada katalog suku cadang online. Mari kita lihat salah satunya, partsouq.com. Untuk innova reborn diesel (mesin 2GD-FTV, kode bodi GUN142R), tersedia 3 filter oli yang dapat digunakan, yaitu; 90915-TB001 (sama dengan bawaan all new fortuner diesel yang tadi diceritakan), 90915-20003, dan 90915-YZZD2. Begitu pula katalog suku cadang untuk innova diesel lama bermesin 2KD-FTV, innova bensin berkode mesin 1TR-FE maupun fortuner bensin berkode mesin 2TR-FE, katalog merekomendasikan ketiga filter tersebut; 90915-TB001, 90915-YZZD2 dan 90915-20003.










Sama dengan 90915-TB001, 90915-YZZD2 dan 90915-20003 juga bikinan Thailand. Di online shop, harganya beragam. Yang termurah 16 ribu rupiah, yang termahal 135 ribu rupiah. Penjua-penjual dengan reputasi baik rata-rata menjualnya di rentang 60 hingga 75 ribu rupiah.

Lalu bagaimana kesimpulannya?

Sebelumnya, mari kita buka lagi partsouq.com, lalu lihat filter oli manakah yang digunakan oleh Kijang Kapsul bermesin 1RZ-E.





Ternyata SAMA!!!

Karena sama, maka sementara dapat disimpulkan bahwa 90915-YZZZ2 adalah filter oli yang dapat digunakan sebagai substitusi bagi filter oli 90915-TB001, 90915-YZZD2 dan 90915-20003. Hanya saja, tulisan pada badan filter dan kemasan filter tersebut yang kurang update sehingga menimbulkan kerancuan. Alahngkah baiknya jika produsen filter 90915-YZZZ2 memperbarui tulisan-tulisan tersebut.

Sayangnya masih ada satu misteri yang belum terpecahkan.

Jika kita lihat pada buku pedoman pemilik innova reborn dan all new fortuner, disana tercantum volume filter oli mesin 1TR-FE dan 2TR-FE adalah 300 mL. Sedangkan volume filter oli mesin 2GD-FTV adalah 500 mL. Sedangkan volume filter oli 2KD-FTV yang digunakan pada innova diesel lama, hilux dan hiace, hanya 200 mL. Beda lagi dengan volume filter oli mesin 1RZ-E. Berdasarkan buku pedoman pemilik Kijang Kapsul, volume filter oli mesin 1RZ-E adalah 700 mL.

Nahh, bagaimana mungkin satu filter yang sama (90915-YZZZ2 untuk pasar Indonesia dan 3 substitusinya yang buatan thailand) bisa memiliki volume yang berbeda-beda???

Jawaban pertanyaan ini masih misteri, mungkin hanya Tuhan dan TAM yang tahu….








Gambar-gambar pada artikel ini didapat dari google, yang pada akhirnya mengarahkan pada gambar-gambar dari berbagai online shop dan thumbnail video youtube b channel

Rabu, 07 Agustus 2019

2nd generation Mitsubishi Colt (L300) Pick Up Specification and Maintenance Data (1984)




Mitsubishi Colt L300, 1st facelift

Local Nickname          : Colt L300, elsape, eltitus
Global Name               : Mitsubishi Delica 2nd generation, Chrysler L300 Express, Ford Husky, Mitsubishi L300, Mitsubishi L300 Express, Hyundai Porter, Isuzu Bison, Mahindra Voyager, Hyundai H-100, Hyundai Grace



* Dimensions and weight
Engine
Diesel
Gasoline
Body
Pick-up
Chassis
Pick-up
Chassis
Overall length
4170 mm
4250 mm
4120 mm
4090 mm
Overall width
1700 mm
1695 mm
1700 mm
1695 mm
Overall height
1845 mm
1820 mm
1840 mm
1815 mm
Wheelbase
2200 mm
Thread
Front
1440 mm
Rear
1380 mm
Ground clearance
200 mm
Floor Clearance
705 mm
665 mm
700 mm
660 mm
Curb Weight
1165 Kg
1090 Kg
1050 Kg
975 Kg
Gross Vehicle Weight
2205 Kg
1998 Kg
Passenger Capacity
3

3

Pick-up Bed
Length
2425 mm
-
2475 mm
-
Width
1600 mm
-
1600 mm
-
Height
360 mm
-
360 mm
-

 Engine
Engine
Diesel
Gasoline

Model
Mitsubishi 4D55, 4 cylinder inline, water cooled, OHC
Mitsubishi 4G33, 4 cylinder inline, water cooled, OHC

Bore and Stroke
91.1 x 90 mm
76.9 x 86 mm

Displacement
2346 cc
1697 cc

Compression ratio
21.0 : 1
8.5 : 1

Firing order
1 – 3 – 4 – 2
1 – 3 – 4 – 2

Valve Clearance
Intake
0.25 mm
0.15 mm

Exhaust
0.25 mm
0.25 mm

V Belt Tension
7 – 10 mm

 Fuel System
Diesel
Injection Pump
Distributor Type
Nozzle
Throttle Type
Fuel Tank Capacity
47 liter

Gasoline
Carburetor
Single
Choke
Manual
Fuel Tank Capacity
47 liter

 Lubrication System
Engine
Diesel
Gasoline
Oil Capacity
Oil Pan
4.2 liter
3.5 liter
Oil Filter
0.6 liter
0.5 liter
Oil Cooler
0.2 liter
-
Oil Grade
API Service CC, CD
API Service SD, SE
Recommended Viscosity
SAE 40
SAE 20W/50


 Cooling System
Engine
Diesel
Gasoline
Capacity
7.0 liter
Spare Tank
0.65 liter
Coolant Additive
Dia Queen Radiator Conditioner

 Electrical System
Engine
Diesel
Gasoline
Battery
12 V – 70 Ah
12 V – 35 Ah
Alternator
12 V -  45 A
12 V -  40 A
Glow Plug
Sheathed Type
-

 Ignition System
Engine
Diesel
Gasoline
Spark Plug
Make
-
·         NGK BP 5 ES
·         Champion N 12 Y
·         ND / Denso W . 16 EP
Gap
-
0.7 – 0.8 mm
Timing Order
1 – 3 – 4 – 2
1 – 3 – 4 – 2
Ignition timing
50 ATDC
50 BTDC / 700 RPM
Idle engine speed
750 ± 30 RPM
700 ± 50 RPM

 Differential
Oil Capacity
1.8 liter
Oil Type
GL-4 or GL-5
Recommended viscosity
SAE 90

 Manual Transmission
Engine
Diesel
Gasoline

Type
5 speed, full synchromesh
Gear ratio
1st gear
4.330
2nd gear
2.355
3rd gear
1.574
4th gear
1.000
5th gear
0.827
Reverse gear
4.142
Gear Oil Capacity
2.0 liter
Gear Oil Type
GL-4 or GL-5
Recommended oil viscosity
SAE 90

 Clutch
Engine
Diesel
Gasoline
Pedal free play
6 – 13 mm
20 – 35 mm
Clutch type
Single friction plate with diaphragm spring

 Brakes
Engine
Diesel
Gasoline
Type
Dual circuit with brake servo
Front brake
Disc Brake
2 – Leading
Rear brake
Drum Brake
Duo servo
Pedal free play
10 – 15 mm
Parking brake lever travel
16 – 22 click
Fluid type
SAE – J 1703 (DOT 3)

 Steering
Steering type
Recirculating ball
Gear ratio
21.5 : 1
Fluid Type and Viscosity
GL-4 or GL-5 SAE 90

 Tires and wheels
Diesel
Tire size
7.00 – 14C – 8 PRLT
Tire inflation pressure

Pick-up
Minibus
Front
3.25 Kg/Cm2
3.25 Kg/Cm2
Rear
4.25 Kg/Cm2
3.25 Kg/Cm2
Wheel size
5 J - 14
Wheel nut torque
7 – 8 Kg m

Gasoline
Tire size
6.00 – 13 – 8 PRLT
Tire inflation pressure

Pick-up
Minibus
Front
3.0 Kg/Cm2
3.0 Kg/Cm2
Rear
4.25 Kg/Cm2
3.25 Kg/Cm2
Wheel size
4 J - 13
Wheel nut torque
7 – 8 Kg m

 Chassis
Hub bearing grease
Shell Retinax A, Shell Retinax AM, Esso Multi Purpose, Mobil Grease MP, Caltex Marfax All Purpose
Chassis grease
Shell Retinax A, Esso Grease H, Mobil Grease MP, Caltex Marfax All Purpose

 Suspension
Front Suspension
Double Wishbone, Coil Spring
Free play
Semi elliptic Leaf Spring

 Light bulbs

Light Bulbs
Watt
Exterior
Headlights
65/55
Front turn signal lights
23
Position lights
5
Side turn signal lights
5
Rear turn signal lights
23
Stop and tail lights
21/5
Back-up lights
23
License plate lights
10
Interior
Room lights
10

Reference : PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors. "Buku Petunjuk Bagi Pemilik Mitsubishi Colt Bensin & Solar", Jakarta, Jul. 1984.